Tentang Janjimu

Akan kusingkap gelap,
kuhempas pekat,
hingga semburat cahaya
datang berkilat kilat

Dalam mata yang kian berat,
telinga terkunci rapat,
dan hati yang hampir sekarat

________
Aku mulai bosan menunggu kabar itu.
Sayangnya titik jenuhku tak kunjung tiba.
Telah sekian asa mereka mengharap.
Ketika janji tinggal sebaris kata penuh tanya
Lihat di luar sana
Ada yang bertanya tanya
Tentang hutangmu padanya

Jadi Pembimbing Murid Untuk KSM Math Nasional

Dia seorang anak perempuan yang manis. Sebut saja namanya, Bunga. Dalam balutan jilbab syar’inya, dia datang kepadaku dengan diantar ibunya. Aku diminta membimbing Bunga untuk persiapan lomba Matematika Nasional di Palembang minggu depan.

Gaya bicaranya memang berbeda dari anak anak kebanyakan. Hampir mirip denganku. (Ah, itu cuma perasaanmu saja, xixi)

Katanya, dia ranking 3 di kelasnya. Lomba sains diwakili oleh temannya yang ranking 2, namun tidak berkesempatan maju ke provinsi.

Temannya yang ranking 1, sebut saja namanya Nina, memutuskan tidak ikut lomba ini berdasarkan hasil istikharahnya, cerita Bunga.

Lalu kata bu Guru, “Karena Nina tidak mau ikut lomba ini, terpaksa ibu memilih kamu Bunga…”

“Terpaksa bu… Terpaksa coba….”, protesnya kepadaku di sela sela waktu belajar kami. Dan aku setia mendengarkan.. ‪#‎senyum‬

Pasti ada hikmahnya. Jika Nina yang ikut lomba belum tentu dia bisa meraih kesempatan ke Nasional sebagaimana yang Bunga dapatkan. Nina memang ranking 1, namun dia lebih banyak fokus pada pelajarannya. Sedangkan Bunga senang pada pertanyaan yang menantang, tidak sebatas apa yang harus dipelajari di kelas.

Intinya, rezeki seseorang itu tidak pernah tertukar… Alhamdulillah..

Semoga sukses ya, Nak… Lakukan saja yng terbaik yang kamu bisa… Tidak perlu terlalu memikirkan menang atau kalah… Semoga Allah meridhoi ikhtiarmu…

Kangen Kamu, De

Foto(02)Malam minggu ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena ini di sebuah desa kecil di pinggiran sungai Barito. Melainkan aku kehilangan kawan kecilku, teman berebut remote TV, adik manja yang selalu menunggu wadai haji Enong ketika aku kembali dari tugas di kota Intan.

Jumat kemarin dia diantar ke pesantren tanpa sempat aku berpamitan dengannya. Hari pertama dia akan hidup berpisah dari keluarga. Mama ingin dia menimba ilmu agama disana. Tidak satupun dari keempat kakaknya yang pernah menjadi santri. Dia menjadi tumpuan harapan seorang mama yang selalu memohonkan doa kebaikan untuk anaknya.

Dia, anak bungsu yang menjadi yatim sejak kelas tiga Madrasah.
________

Sudah tiada, baru terasa… Kangen kamu, de.. Jumat depan baru aku bisa menjengukmu. Semoga betah disana.

Semoga menjadi anak sholeh ya, de..

Untukmu Muhammad Lukmanul Hakim, adikku tersayang^^

Nilailah Dia dengan Mata, Telinga, dan Hatinya

123

Diantara pelajaran berharga yang saya dapat darinya adalah tentang menilai seseorang. Sering kita berkomentar selayak menilai orang lain, seolah-olah komentar kita adalah yang paling benar, seakan-akan kita tidak punya cela. Seperti kita tidak punya coreng di muka. Padahal, bagaimana mungkin coreng di muka bisa dilihat sendiri, tanpa bercermin. Itupun dengan cermin yang bersih, cermin yang kotor seringkali mengaburkan noda di muka kita.

Manusia adalah makhluk paling sempurna. Dia menyatakan diri sanggup memikul tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk yang dikaruniakan akal, karunia yang hanya dimiliki oleh manusia. Akal untuk berpikir, pekerjaan tersulit di dunia. Betapa manusia yang mensyukuri akalnya akan benar-benar menggunakannya untuk berpikir.

Manusia telah diberi penglihatan, pendengaran, dan hati. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan hati untuk merasakan. Lalu akal untuk berpikir, memahami apa yang telah dilihatnya, apa yang didengarnya, dan apa yang dirasakannya.

Sayangnya, banyak yang dikaruniakan akal namun tak menggunakan akalnya untuk berpikir. Banyak yang memiliki mata namun tak menggunakan matanya untuk melihat kebenaran. Banyak yang memiliki telinga namun tak menggunakannya untuk mendengarkan kebenaran. Banyak yang memiliki hati namun tak menggunakannya untuk merasakan kebenaran. Siapa? Dia kah? Kamu kah? Atau aku sendiri? Mari introspeksi diri. Baca lebih lanjut