Kangen Kamu, De

Foto(02)Malam minggu ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena ini di sebuah desa kecil di pinggiran sungai Barito. Melainkan aku kehilangan kawan kecilku, teman berebut remote TV, adik manja yang selalu menunggu wadai haji Enong ketika aku kembali dari tugas di kota Intan.

Jumat kemarin dia diantar ke pesantren tanpa sempat aku berpamitan dengannya. Hari pertama dia akan hidup berpisah dari keluarga. Mama ingin dia menimba ilmu agama disana. Tidak satupun dari keempat kakaknya yang pernah menjadi santri. Dia menjadi tumpuan harapan seorang mama yang selalu memohonkan doa kebaikan untuk anaknya.

Dia, anak bungsu yang menjadi yatim sejak kelas tiga Madrasah.
________

Sudah tiada, baru terasa… Kangen kamu, de.. Jumat depan baru aku bisa menjengukmu. Semoga betah disana.

Semoga menjadi anak sholeh ya, de..

Untukmu Muhammad Lukmanul Hakim, adikku tersayang^^

Iklan

Nilailah Dia dengan Mata, Telinga, dan Hatinya

123

Diantara pelajaran berharga yang saya dapat darinya adalah tentang menilai seseorang. Sering kita berkomentar selayak menilai orang lain, seolah-olah komentar kita adalah yang paling benar, seakan-akan kita tidak punya cela. Seperti kita tidak punya coreng di muka. Padahal, bagaimana mungkin coreng di muka bisa dilihat sendiri, tanpa bercermin. Itupun dengan cermin yang bersih, cermin yang kotor seringkali mengaburkan noda di muka kita.

Manusia adalah makhluk paling sempurna. Dia menyatakan diri sanggup memikul tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk yang dikaruniakan akal, karunia yang hanya dimiliki oleh manusia. Akal untuk berpikir, pekerjaan tersulit di dunia. Betapa manusia yang mensyukuri akalnya akan benar-benar menggunakannya untuk berpikir.

Manusia telah diberi penglihatan, pendengaran, dan hati. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan hati untuk merasakan. Lalu akal untuk berpikir, memahami apa yang telah dilihatnya, apa yang didengarnya, dan apa yang dirasakannya.

Sayangnya, banyak yang dikaruniakan akal namun tak menggunakan akalnya untuk berpikir. Banyak yang memiliki mata namun tak menggunakan matanya untuk melihat kebenaran. Banyak yang memiliki telinga namun tak menggunakannya untuk mendengarkan kebenaran. Banyak yang memiliki hati namun tak menggunakannya untuk merasakan kebenaran. Siapa? Dia kah? Kamu kah? Atau aku sendiri? Mari introspeksi diri. Baca lebih lanjut

Sebuah Pelajaran Dari Lebaran Tahun Ini

selamat-idul-fitri-2

Betapa beruntungnya orang orang yang memiliki keturunan yang banyak lagi sholeh sepeninggalnya. Kehidupan boleh jadi terpisah oleh kematian. Dunia boleh jadi bertukar tempat. Pertemuan boleh jadi bukan lagi bertatap rupa, melainkan tinggal nisan bertuliskan nama. Namun doa kebaikan akan terus mengalir hingga kapanpun selama masih ada lidah yang meminta penuh harap. Tiadalah balasan kebaikan selain kebaikan pula.
__________
Masih terngiang merdu suaramu, ketika takbir itu kau kumandangkan. Sungguh waktu adalah nikmat yang tak mungkin terulang, hanya bersisa hingga sampai surat perpisahan. Lima tahun sudah, lebaran tanpamu wahai ayah . . .
__________
Lebaran pertama tanpa nenek . . .