Nilailah Dia dengan Mata, Telinga, dan Hatinya

123

Diantara pelajaran berharga yang saya dapat darinya adalah tentang menilai seseorang. Sering kita berkomentar selayak menilai orang lain, seolah-olah komentar kita adalah yang paling benar, seakan-akan kita tidak punya cela. Seperti kita tidak punya coreng di muka. Padahal, bagaimana mungkin coreng di muka bisa dilihat sendiri, tanpa bercermin. Itupun dengan cermin yang bersih, cermin yang kotor seringkali mengaburkan noda di muka kita.

Manusia adalah makhluk paling sempurna. Dia menyatakan diri sanggup memikul tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk yang dikaruniakan akal, karunia yang hanya dimiliki oleh manusia. Akal untuk berpikir, pekerjaan tersulit di dunia. Betapa manusia yang mensyukuri akalnya akan benar-benar menggunakannya untuk berpikir.

Manusia telah diberi penglihatan, pendengaran, dan hati. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan hati untuk merasakan. Lalu akal untuk berpikir, memahami apa yang telah dilihatnya, apa yang didengarnya, dan apa yang dirasakannya.

Sayangnya, banyak yang dikaruniakan akal namun tak menggunakan akalnya untuk berpikir. Banyak yang memiliki mata namun tak menggunakan matanya untuk melihat kebenaran. Banyak yang memiliki telinga namun tak menggunakannya untuk mendengarkan kebenaran. Banyak yang memiliki hati namun tak menggunakannya untuk merasakan kebenaran. Siapa? Dia kah? Kamu kah? Atau aku sendiri? Mari introspeksi diri.

Jika kita ingin berkomentar atau memberikan penilaian terhadap orang lain, alangkah lebih bijak jika meletakkan diri dengan kaca mata orang tersebut, dalam artian matanya adalah matamu, telinganya adalah telingamu, dan hatinya adalah hatimu. Kemudian mencernanya dengan akal.

Sebuah contoh, ketika kita melihat seorang murid mendapat nilai jelek ketika hasil ulangan dibagikan. Lalu serta merta berkomentar, “Kamu memang bodoh”, “Kamu tidak akan naik kelas”, dan komentar negatif lainnya. Padahal bisa jadi murid tersebut sedang dalam keadaan sakit ketika ulangan, atau gurunya yang tidak bisa mengajarkan. Di sisi lain, ada seorang anak yang mendapat nilai ujian tertinggi sekabupaten, lalu dia dinilai, “Anak pintar”, “Cerdas sekali”, “Gurunya pasti hebat”, dan komentar positif lainnya. Padahal mungkin saja nilai itu didapat dari jalan yan tidak semestinya.

Betapa banyak manusia, dengan hanya sekedar melihat saja, atau mendengar saja, atau merasakan saja, atau mencerna sekenanya dengan akalnya, lalu membiarkan lidahnya bermain kata, memberikan komentar atau penilaian yang belum tentu benar, seakan dia lupa bahwa apapun yang keluar dari lisannya pasti akan dipertanggungjawabkan.

Diantara cara kita mensyukuri nikmat mata, telinga, dan hati, serta akal yang diberikan Allah kepada makhluknya hingga menjadi paling sempurna dari makhluk lainnya adalah dengan mempergunakannya dengan sebaik-baiknya.

“Diam itu emas. Bicara yang baik itu berlian.”
_______
Terima kasih untukmu, adikku dalam Islam. Adikku sekaligus guruku yang namanya tak ingin dikenal orang. Atas pelajaran hidup yang berharga dan nasihat menasihati dalam kesabaran dan kebenaran. Semoga Allah merahmatimu ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s