Untuk Seorang Kenalan di Melbourne

10704266_10204227497761459_5353224956084282820_o

Untuk Melbourne yang cantik,
Rumput-rumput basah nan hijau bercerita kepadaku
Tengah malam tadi suhu kota ini sangat dingin, di bawah 10 Celcius
Ada bangkai dahan pohon tergeletak tepat di samping flatku.
Tersapu angin malam yang berdesing-desing nyaring.
Sementara aku mendekam dalam selimut, lelap dalam buaian pemanas ruangan yang menghangatkan.
Tuhan masih menolongku dalam ketidaksadaran.
Itu nikmat-Nya, kawan…

Untuk Melbourne yang cantik,
Semalam kau menegurku dengan Inggrismu yang fasih
Meski aku harus mengeja kata demi kata kalimatmu.
Malam itu aku “terpaksa” mengumpulkan sedikit kosakata dalam memoriku.
Kau bicara 3 kalimat panjang, kujawab hanya dengan 1 kalimat pendek.
Banyak yang ingin kukatakan, namun lidahku kelu.
Sebenarnya aku lebih suka memilih diam, jika saja itu tak memberatkan posisiku.
Tapi, kau berdiri disana dan menunggu aku menjawabmu.

“Apakah sayuran yang sudah dipotong-potong di kulkas itu milikmu?”
“Ya..”
“Seharusnya kau menutup mangkok sayuran itu dengan plastik, atau gunakan saja toples yang bertutup jika ingin meletakkannya di kulkas. Setiap malam ada petugas yang memeriksa kebersihan dapur termasuk kulkas. Dan mereka akan membuang makanan kita jika tidak sesuai dengan aturan tempat ini.”
“Ya, aku tau. Tapi, kupikir mereka hanya akan melakukan razia setiap malam kamis saja.”
“Tidak. Tidak begitu. Mereka bisa kapan saja melakukannya. Sebaiknya kau turuti saranku.”
“Tapi . . . Maaf . . . “
“Oke… Aku akan menunggu jawabanmu.”
Ingin sekali aku bilang bahwa kelompok kami tidak memiliki tutup plastik untuk mangkok itu apalagi toples bertutup. Dua buah toples yang kami miliki sudah berisi daging. Namun, aku tak punya cukup kosakata untuk itu. Atau aku yang gugup karena hanya berdua dengan orang ini didapur. Mengapa tidak dari sore tadi saja dia menegur kami, saat aku dan teman-temanku masih asyik meracik bahan untuk esok hari. Bukankah dia juga mengobrol dengan temanku yang lain. Padahal aku hanya ingin membuat susu panas saja malam itu. Mengapa aku kembali ke dapur dan bertemu dengannya.
Akhirnya, dengan penuh kebingungan kujawab saja,
“Baiklah. Aku akan membawanya ke kamarku saja. Terima kasih atas saranmu.”

Sampai detik ini, aku tak tau siapa namamu. Kamu, mahasiswa tampan dari India.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s